Quick Response

  • Sastra Sufi: Sebuah Antologi
  • Oposisi Sastra Sufi
  • Memadukan Akal dan Kalbu dalam Beriman
  • Makna Hidup Sesudah Mati: Kebangkitan dan Penghisaban
  • Kenangan Masa Lampau: Zaman Kolonial Hindia Belanda dan Zaman Pendudukan Jepang di Bali
  • Filsafat Sosial Serat Sastra Gending
  • Orang-orang Terbisukan
  • Agama dan Perubahan Sosial

Oposisi Sastra Sufi

Judul: Oposisi Sastra Sufi
Penulis: Aprinus Salam
Penerbit: LKiS, 2004
Tebal: 218 halaman
Kondisi: Buku stok lama (bagus)
Harga: Rp. 60.000 (blm ongkir)
Order: SMS (Masih Contoh)

"Puncak sufisme adalah tercapainya 'ekstase' religius bagi hamba di hadapan Ilahi. 'Ekstase' tersebut dalam bentuk kesalehan yang sungguh-sungguh. Dalam agama, pencapaian 'ekstase' menuju Ilahi melalui jalan sufisme merupakan jalan yang sah. Pencapaian absolut dunia sufisme, seperti yang "dibentangkan" Aprinus Salam dari ujarannya Sayyid Hossein Nasr, adalah: "...ia menjadi sumber batin kehidupan dan menjadi pusat yang mengatur seluruh organisme keagamaan Islam" (hlm. 28). Kajian Aprinus Salam dalam buku Oposisi Sastra Sufi menekankan sufisme dalam spektrum-singgungan politik, khususnya yang terjadi dalam pergulatan politik di Tanah Air. Dengan memposisikan gerakan sufisme sebagai lokomotif dan kekuatan moral dalam upaya melawan politik pada konteks saat itu (Orde Baru) yang hegemonis dalam ruang sosial umat-kemanusiaan. Di sini sufisme 'berpihak' pada kekuatan medium teks sebagai bahasa penyampainya, misalnya melalui syair-syair puisi sufi yang di dalamnya memuat (1) bahasa ketuhanan dan (2) bahasa sosio-politik. Lebih jelasnya lihat buku ini yang banyak menguraikan keduanya tersebut. "

Memadukan Akal dan Kalbu dalam Beriman

Judul: Memadukan Akal dan Kalbu dalam Beriman
Penulis: M. Fethullah Gulen
Penerbit: RajaGrafindo Persada, 2002
Tebal: 236 halaman
Kondisi: Stok lama (bagus)
Harga: Rp. 45.000 (blm ongkir)
Order: (Masih Contoh )


Makna Hidup Sesudah Mati: Kebangkitan dan Penghisaban

Judul: Makna Hidup Sesudah Mati: Kebangkitan dan Penghisaban
Penulis: Ali Unal
Penerbit: RajaGrafindo Persada, 2002
Tebal: 249 halaman
Kondisi: Stok lama (bagus)
Harga: Rp. 45.000 (blm ongkir)
Order: (Masih Contoh)


Kenangan Masa Lampau: Zaman Kolonial Hindia Belanda dan Zaman Pendudukan Jepang di Bali

Judul: Kenangan Masa Lampau: Zaman Kolonial Hindia Belanda dan Zaman Pendudukan Jepang di Bali
Penulis: Ide Anak Agung Gde Agung
Penerbit: YOI, 1993
Tebal: 244 halaman
Kondisi: Stok lama (bagus)
Harga: Rp. 30.000 (blm ongkir)
Order: (Masih Contoh)

Memoir ini bukan suatu karya sejarah untuk mengungkapkan dan menggambarkan perkembangan masa lampau, namun demikian, memoir yang merupakan kenangan pribadi ternyata dapat mengungkapkan dengan baik sekali perkembangan social dan politik pada zaman kolonial Hindia Belanda pada waktu itu di Bali. Penulis yang masa kanak-kanak dan remaja hidup di lingkungan Puri Agung Gianyar yang feudal, dapat menyaksikan singgungan yang terjadi dengan kebudayaan Barat yang sering menimbulkan situasi yang aneh dan lucu. Selain itu memoir ini juga berhasil mengisahkan kembali pahit getirnya masa pendudukan Jepang yang menimbulkan kesengsaraan rakyat banyak di Bali. Yang menonjol dari buku ini adalah bahwa ia dapat melukiskan kejadian dengan lengkap dan terinci, menunjukkan kejujuran, dan dilengkapi dengan dokumentasi yang baik.

Filsafat Sosial Serat Sastra Gending

Judul: Filsafat Sosial Serat Sastra Gending
Penulis: Damardjati Supadjar
Penerbit: Fajar Pustaka, 2001
Tebal: 222 halaman
Kondisi: Stok lama (bagus)
Harga: Rp. 35.000 (blm ongkir)
Order: SMS (Masih Contoh )


Serat Sastra Gending yang saat ini banyak diyakini buah karya Sultan Agung Hanyokro Kusumo adalah salah satu karya adiluhung bangsa kita. Di dalamnya berisi tentang ajaran-ajaran kebijakan yang mencakup ajaran mistis, sosial, politik dan filsafat. Dalam bait-bait sastra gending banyak yang telah dimasukkan bahasa Islam ataupun ajaran Islam meskipun dapat dilihat ajaran atau bahasa yang digunakan masih sangat awam. Hal ini disebabkan ajaran yang Islam masih bersifat kejawen karena pada masa itu Islam belum benar-benar dipeluk oleh kalangan masyarakat Jawa.